Kamis, 05 April 2012

Menyelamatkan Generasi Muda dari Bahaya Pornografi


MENYELAMATKAN GENERASI MUDA
DARI BAHAYA PORNOGRAFI
Abu Fathan

Buku “Gurita Pornografi Membelit Remaja” adalah edisi revisi dari buku berjudul “Remaja Dirantai Birahi” yang terbit tahun 2004 lalu oleh penerbit Pustaka Ulumuddin (Bandung). Perkembangan pornografi yang demikian pesat, terutama setelah era teknologi multimedia, menuntut buku ini harus direvisi dan ditambahi banyak materi lainnya.

Istilah “Gurita Pornografi” sendiri hanyalah kiasan saya untuk menunjukkan realitas pornografi yang sudah menyeruak hebat di hampir seluruh sisi kehidupan kita. Pornografi layaknya gurita yang membelit dengan cengkeraman tangan-tangannya yang banyak lagi kuat. Sehingga siapapun yang tercengkeram oleh belitan pornografi, maka ia akan sulit untuk lepas darinya.

Celakanya, gurita pornografi itu kini telah banyak membelit generasi muda kita, termasuk anak-anak. Sebuah data dari hasil survei mengungkap sebuah fakta yang mengejutkan tentang arus pornografi di kalangan anak-anak Indonesia. Ternyata, anak-anak kita (usia Sekolah Dasar/SD) sudah banyak yang mengenal pornografi. Banyak media yang telah mereka akses untuk menikmati gambar atau adegan syur itu.

Dari survei yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati selama tahun 2005, diketahui ada 1.705 anak kelas 4 – 6 SD di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) yang mengaku sudah mengenal pornografi.

Hal itu diungkap Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, dalam diskusi Selamatkan Anak Indonesia di Gedung RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Survei, seperti dikutip di detiknet, dilakukan terhadap anak-anak di 134 SD.

Mereka disodori lembar pertanyaan yang sangat vulgar, namun dengan bahasa yang diperhalus. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagian besar seputar reproduksi.

Dari survei tersebut diketahui, sebanyak 20 persen anak-anak mengenal pornografi dari situs internet, 25 persen dari handphone, 2 persen dari film dan TV, 12 persen dari film VCD/DVD, 17 persen dari novel atau cerita, 12 persen dari majalah, koran atau tabloid sebanyak 3 persen, dan lain-lain sebanyak 9 persen.

Sementara untuk tempat-tempat mereka mengakses materi pornografi sebagian besar, yakni 35 persen di rental VCP/internet, 25 persen rumah sendiri, 22 persen rumah teman, dan lain-lain 18 persen.

Survei itu membuat miris kita semua, karena ternyata arus pornografi sudah mulai merambah ke anak-anak kita. Apalagi dengan adanya perkembangan teknologi yang terus berkembang pesat, menjadikan konten-konten pornografi, dengan segala jenis dan bentuknya, semakin mudah diakses dan dijumpai.

Dampak Pornografi Pada Anak

Yang menjadikan miris adalah, pornografi ternyata memiliki dampak yang sangat buruk bagi penikmatnya. Pada anak-anak, pornografi sangat berpengaruh pada perkembangan otaknya. Bagaimana hal itu dapat terjadi?

Ada 2 sistem dalam otak manusia, yakni responder (pada sistem limbik) dan directory (bagian otak depan). Sistem directory terkait dengan kemampuan berpikir rasional, mengambil keputusan, menentukan prioritas, kemampuan penilaian dan analisis. Namun, sistem directory ini belum berkembang pada masa remaja dan sepenuhnya berkembang mencapai usia 24-25 tahun.

Sistem Limbik mengatur perilaku, hasrat, emosi, memori, motivasi dan homeostatis. Juga mengajak seseorang untuk memuaskan diri untuk merasakan kenikmatan. Bagi anak, stimulasi sangat mudah karena anak dominan belajar dengan melihat dari pada rangsang berpikir.

Stimulasi oleh pornografi merangsang pelepasan hormon dopamin dan endorfin. Jumlah reseptor di dalam otak akan terus bertambah yang dapat menggiring anak menjadi kecanduan.

Kedua bahan kimia dibutuhkan terus ketika ada perangsangan. Jika paparan pornografi diteruskan, otak akan membutuhkan dopamin semakin besar guna mempertahankan kadar rasa senang yang sama seperti alkohol dan heroin.

Jadi dopamin dan endorfin akan bermanfaat kalau kita hidup normal. Terkait pornografi, otak mengalami rangsangan berlebihan sehingga otak tak bekerja dengan normal dan tidak dapat merespons lagi. Akibatnya otak mengecil dan bagi anak yang otaknya belum berkembang, pornografi sangat berpengaruh dan rentan menyebabkan adiksi serta merusak tumbuh kembang otaknya.

Terdapat perubahan-perubahan pada anak yang mengalami masalah dengan pornografi.Tanda-tandanya: Anak menjadi depresi, menarik diri, berbicara mengarah ke arah seks, dan mengisolasi diri.

Dampak Pornografi Pada Orang Dewasa

Pornografi tidak hanya berdampak negatif pada anak-anak, tapi juga pada orang-orang dewasa. Menurut sebuah penelitian, kecanduan cybersex (yang saat ini paling banyak dijumpai) bisa merubah perilaku 180 derajat. Untuk yang berumah tangga, keharmonisan rumah tangga akan terganggu. Bahkan menurut Kimberley Young, psikolog asal Amerika, banyak kegagalan akibat perkawinan yang dia temui akibat kecanduan cybersex. Menurut Kimberley, jangankan yang usia perkawinannya 5 tahun atau 10 tahun, yang 25 tahun saja dapat hancur gara-gara salah satu pasangannya tergila-gila situs porno.

Bagi remaja, kecanduan situs porno (cybersex) akan membuat ritme belajar menjadi kacau. Secara umum, kecanduan situs porno akan berdampak negatif terhadap karakter seseorang. Berdasarkan penelitian Bingham dan Piotrowski dalam Psychological Report berjudul On-line Sexual Addiction menyebutkan, karakter orang yang kecanduan cybersex adalah: ketrampilan sosial tidak memadai, lebih memilih bergelut dengan fantasi yang bersifat seksual, asyik berkomunikasi dengan figur-figur ciptaan hasil imajinasinya sendiri, tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak mengakses situs porno, dan lupa waktu sehingga lupa kerja.

Bahaya atau dampak negatif bagi remaja, kecanduan cybersex (dan pornografi secara umum) akan menjadikan ia menjelma menjadi remaja yang tidak gaul (kurang sosialisasi) dan kuper, remaja yang hidupnya selalu dibayangi fantasi seksual, serta waktu dalam hidupnya akan terbuang percuma untuk sesuatu yang tidak produktif, bahkan dapat bersifat destruktif alias dapat merusak diri dan masa depannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar